Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita fakta

Perjalanan Pendek

Gambar
Kehidupan, rangkaian permulaan yang berjalan perlahan menuju proses hingga perlahan akan direnggut oleh sebuah akhir. Kehidupan adalah sebuah perjalanan. Budhha, adalah petualang sejati. Perjalanan yang ia tempuh, menuju sebuah akhir yang suci: kebenaran. Memulai perjalanan, sama saja mengumpulkan segala keberanian yang tersusun di hari-hari kemarin, menjadi sebilah pisau yang akan menumpulkan ragu dan ketakutan di masa depan. *** Kemarin, pada 13 Juni, saya bersama dua orang kawan mencoba sebuah perjalanan pendek. Hitungan jaraknya dari tempat awal kami, tak sampai sepuluh kilometer menuju tempat yang ingin kami tuju. Sederhana, saya memaknai perjalanan yang sekilas itu sebagai sebuah simulasi untuk perjalanan yang lebih panjang. Pendeknya jarak yang saya, dan dua kawan saya tempuh adalah miniatur dunia nyata nantinya. Siang itu, saya masih bermalas-malasan di depan laptop. Sekedar memandangi dinding facebook yang penuh limbah informasi. Di depan saya, tak seberapa ja...

Satu Jam Saja

Beberapa waktu lalu, disela-sela memanasnya berita tentang hasil hitung cepat pilpres pada 9 Juli, ada kabar cuaca bahwa suhu Jakarta menembus angka 25 derajat celcius, sedikit dingin untuk Jakarta yang biasa panas. Saya tahu, berita ini tak memiliki pengaruh apapun terhadap booming-nya berita-berita tentang Quick Count. Malam ini, saya tak tahu Jember berapa derajat suhunya, tak ada media yang mau memberitakannya. Ya, memang tak penting. Yang jelas, saya menulis ini pada malam hari dengan mengenakan jaket, Jember sedang dingin. Kawan saya, di sebelah saya duduk mengajak “panas-panasan!” Mengajak saya menulis cepat, terserah apapun yang ditulis. Selanjutnya tulisan itu akan langsung diposting ke website pribadi masing-masing. Jam sepuluh malam nanti, adalah batas akhir tulisan itu. Tak ada hadiah atau apapun dalam kompetisi ini, Cuma iseng! *** Beberapa hari ini, saya intens mengamati berita-berita media online dan televisi. Semua pada sibuk memberitakan sesaknya atmosfir...

Bu Lara Bercerita Kematian

“ seseorang selama empat puluh hari sebe l um ia meninggal, maka akan berperilaku sangat aneh, atau orang-orang dise k itarnya juga mendapati hal-hal aneh yang sebelumnya belum pernah terjadi dalam hidup mereka ” Ujar salah seorang kawan saya. Cerita ini dari ker a bat saya. Kerabat saya ini perempuan, dan dia memiliki dua anak. Anak kandungnya hanya satu , berjenis kelamin laki-laki, serta yang satunya lagi adalah anak hasil adopsi, berjenis kelamin perempuan. Kisah yang akan saya ceritakan adalah kisah anak pertama kerabat saya ini. Sebelumnya, nama kerabat saya ini Bu Lara dan anak laki-lakinya bernama Bambang, sebut saja begitu. Ada kisah menarik dari perempuan lima puluhan tahun itu. Bu Lara menceritakan tentang Bambang. Tentang kisah Bambang sebelum dia dipanggil Tuhan. Saat itu saya tengah di rumah bu Lara, saya kesana karena Bu Lara baru saja pulang dari rumah anaknya.   Bu Lara menceritakan kehidupan anaknya sebelum kejadian naas merenggut nyawa Bambang...

Kisah Tentang Wanita Itu

Awal mula saya mengenalnya, di ajak seorang kawan. Kawan yang sangat dekat sekali dengan saya. Sampai sedekat ini (sambil menunjuk tempat antara hidung dengan bibir). Di ajaklah saya untuk menemuinya. Sampai di depan rumahnya, saya dipersilahkan duduk, tidak disuruh masuk. Di teras rumahnya ada tempat yang memang khusus untuk tamu. Yang saya rasakan saat pertama kali melihatnya,   dia itu ramah, murah senyum. Paras wajahnya imut, mirip-mirip Nikita Willy atau personil Cherry Belle, hanya saja lebih sedikit kecoklatan kulitnya dan tak terlalu tinggi. Dia seorang wanita . Dari pertemuan pertama, ternyata saya keasikan. Hingga hari-hari berikutnya saya terus menemuinya, tapi sayang, malam hari saya kesana tidak diperbolehkan. Jadi hamp i r setiap pagi menjelang siang kesana, terkadang juga sore hari. Sampai saat ini, saya masih tetap terus setia berkunjung kesana. Keramahan yang di...

Wanita-wanita

Setiap perempuan, siapapun dia, dapat membuat seorang lelaki, siapapun dia, menjadi seorang pria sejati. -Putu Wijaya- Dia yang darahnya mengalir di tubuhku, yang peluhnya menetes dalam semangatku dan kasih sayangnya yang memaksaku ikhlas tumbuh bersama waktuku. Raut wajahnya kini tak seperti dulu, saat aku masih belum bisa membuang ingusku sendiri. Dia tak terlalu renta, namun masih berwibawa dan lembut tuturnya. Berjalannya kini pelan, tak seperti dulu saat ia masih bisa mengejarku yang tengah asik bermain, dan hampir saja kendaraan bermotor menabrakku dari belakang saat aku berlarian di jalan. Bicaranya kini setengah berbisik, tak seperti dulu yang tawa kerasnya bisa membuatku tertawa juga. Yang tak berubah dari wanita 60-an tahun itu, masakannya masih bisa menggoyang lidah. Saat aku jauh darinya, selain binar wajah dan tegak tubuhnya, adalah masakan sederhananya yang kurindu. Urap-urap sepesial buatannya selalu menungguku di meja dapur, dan dia menyiapkan it...