Postingan

Menampilkan postingan dengan label kisah disamping saya

Perjalanan Pendek

Gambar
Kehidupan, rangkaian permulaan yang berjalan perlahan menuju proses hingga perlahan akan direnggut oleh sebuah akhir. Kehidupan adalah sebuah perjalanan. Budhha, adalah petualang sejati. Perjalanan yang ia tempuh, menuju sebuah akhir yang suci: kebenaran. Memulai perjalanan, sama saja mengumpulkan segala keberanian yang tersusun di hari-hari kemarin, menjadi sebilah pisau yang akan menumpulkan ragu dan ketakutan di masa depan. *** Kemarin, pada 13 Juni, saya bersama dua orang kawan mencoba sebuah perjalanan pendek. Hitungan jaraknya dari tempat awal kami, tak sampai sepuluh kilometer menuju tempat yang ingin kami tuju. Sederhana, saya memaknai perjalanan yang sekilas itu sebagai sebuah simulasi untuk perjalanan yang lebih panjang. Pendeknya jarak yang saya, dan dua kawan saya tempuh adalah miniatur dunia nyata nantinya. Siang itu, saya masih bermalas-malasan di depan laptop. Sekedar memandangi dinding facebook yang penuh limbah informasi. Di depan saya, tak seberapa ja...

Cerita Saat Senja

Semburat jingganya menyiratkan akhir. Awal kemunculannya adalah permulaan menuju gelap. Setelah ia datang, maka manusia-manusia dengan segala bisingnya siap menenggelamkan hidupnya ke dalam dunia lain. Saya yang tengah menikmati hari, siap menyambutnya dengan senyum, karena memang mau tak mau ia akan tetap datang menghampiri bumi. Aku memanggilnya senja.   Senja kali ini berbeda, saya sedang bersama seseorang yang akan memberikan banyak cerita tentang hidupnya. Cerita tentang kehidupannya. Di senja kali ini, hanya sedikit dari kisah hidupnya yang panjang. *** Pada awalnya saya menyaksikan orang tua itu dengan biasa saja, namun lama kelamaan ada hal unik yang muncul dari dirinya. Dia melakukan aktifitasnya demi seseorang “saya tulus dan tanpa pamrih,” begitu katanya saat saya menanyakan mengapa dia melakukan semua aktifitasnya itu. Setiap harinya ia hanya menghabiskan waktu dengan menyombongkan diri, karena bisa berada diatas bumi. Diatas pohon kelapa itu ...

Kisah Apel

Diawali dengan suka padanya, lewat rasa dan warna rasa suka itu hadir. Segar, mengandung banyak vitamin dan mineral. Jika dalam klasifikasi ilmiah, dia termasuk dalam kerajaan Plantae, dan termasuk bangsa Maleae. Biasanya dia memiliki dua warna; merah dan hijau. Tapi ada juga yang berwarna kuning. Yang jelas warna-warna itu juga memupuk rasa suka tadi. Dia termasuk dalam kelas Magnoliopsida serta masuk dalam spesies M. Domestika. Sesuatu yang memiliki nama Binominal malusdomestika ini, bisa diolah menjadi jus, saus, dan beberapa minuman lain. Itulah apel. Pertama kali orang menanam apel itu di daerah Asia Tengah, namun saat ini banyak apel bisa di jumpai hampir di seluruh Negara di dunia. Pohon apel itu kecil dan berdaun gugur, daunnya berbentuk lonjong, dan meiliki panjang 5 sampai 12 cm. Bunga apel mekar di musim semi, bersamaan dengan percambahan daun. Bunganya putih dengan baur merah jambu yang berangsur pudar. Pada bunga, terdapat lima kelopak , dan mencapai diameter 2...

Sejenak Bersama Malam

Menyapa malam yang indah beriring sanjungan. Memujinya, seraya berharap dia memberikan sentuhan indahnya. Tak pernah ada yang mengalahkan malam seusai hujan, ada keindahan menenangkan disana. Keindahan yang dibangun rasa sejuk, aroma tanah basah, basahnya dedaunan di temani lantunan merdu jatuhnya air dari genteng. Suasana yang membuat catatan-catatan hitam dangkal yang tergores dalam satu hari ini menjadi hilang. Lenyap dilenyapkan. Hanya kekosongan yang membujuk ke ruang curahan. Dalam, sangat kelam. Kekosongan itu meng-indahkan, menjadi romantisme yang selalu kudamba di setiap riuhnya keseharian dalam citra yang kubuat. Kekosongan kelam ini menjelma, membaluri raga dengan kepura-puraannya. Yang seharusnya menjadikan buruk, seketika berubah menjadi keindahan baru. Hingga jiwa ini menjadi buta, terlena kebahagiaan yang hadir dari serpihan-serpihan kekosongan hitam.  Beranjaknya malam, memuncakkan sepi. Terus saja aku bermesraan dengannya, hingga sepertinya hasrat men...