Postingan

Menampilkan postingan dengan label muisi

Puisi di Sekitarku dan Manuisa

Tetaplah Aku Aku adalah aku Sejauh melangkah tak rapuh langkahku Memandang bumi berayun, tak gentar aku Biar luas membentang, tak lelah aku memandang Inilah aku, melayang saat angin barat datang Diterbangkan angan menuju penuh impian Aku yang sayapnya mampu membelah utara dan selatan Aku dalam gelapku menyilaukan harapan Aku, kuteriakkan namaku diantara bebatuan Pohon-pohon kuharap juga mendengar Lautan tak berombak, biarkan aku kesana Kubuatkan kau gelombang biar kau bersaksi atasku Aku, jauh harapku tentangku Semegah dunia ini berdiri Tetaplah aku yang aku Namun aku, Tetap saja kelu di senja-Mu Basah di gerimis bulan November Aku, tak berujar di awal harimu Inilah aku, dalam diam seusai hujan, tergelincir lidahku Kebingungan Tetaplah duka dalam hitam tak bersinar Biar putih membelai insan gemilang Tetap ia tenggelam dalam bujuk senja Niscaya redup di ujung gelisah Langit mungkin benderang Bumi juga kencang ...

Tentang Langit

Kau Tahu langit? biru membentang, tanpa batas disaat cerah gelap, pekat dikala mendung basah dikala hujan hitam murung dikala malam tanpa bintang Kau Tahu langit? menerangi jagad, menyegarkan suasana bentangan luasnya tak berbatas naungan bagi semua makhluk Kau Tahu langit? taman para burung taman para malaikat tujuan para insan pilihan Kau Tahu langit? Bagiku langit juga sepertimu taman untukku bersenang-senang menerangi hari dengan celoteh riang taman untukku bermain-main Kenapa langit juga sepertimu? karena kau sama indahnya dengan langit *** Tulisan ini diambil dari Facebook saya. Entah saya lupa, kapan tulisan ini dibuat. Mungkin sudah beberapa abad yang lalu.

Sehari

Gelap hilang Mimpi hilang Awal yang hangat Kemudian terang Lalu redup Lalu gelap Lalu lelap Seterusnya terulang (28/02/13)

Sejenak Bersama Malam

Menyapa malam yang indah beriring sanjungan. Memujinya, seraya berharap dia memberikan sentuhan indahnya. Tak pernah ada yang mengalahkan malam seusai hujan, ada keindahan menenangkan disana. Keindahan yang dibangun rasa sejuk, aroma tanah basah, basahnya dedaunan di temani lantunan merdu jatuhnya air dari genteng. Suasana yang membuat catatan-catatan hitam dangkal yang tergores dalam satu hari ini menjadi hilang. Lenyap dilenyapkan. Hanya kekosongan yang membujuk ke ruang curahan. Dalam, sangat kelam. Kekosongan itu meng-indahkan, menjadi romantisme yang selalu kudamba di setiap riuhnya keseharian dalam citra yang kubuat. Kekosongan kelam ini menjelma, membaluri raga dengan kepura-puraannya. Yang seharusnya menjadikan buruk, seketika berubah menjadi keindahan baru. Hingga jiwa ini menjadi buta, terlena kebahagiaan yang hadir dari serpihan-serpihan kekosongan hitam.  Beranjaknya malam, memuncakkan sepi. Terus saja aku bermesraan dengannya, hingga sepertinya hasrat men...

Arjuna Mencari Terang (sebuah serpihan dari yang panjang)

“Aku banyak disebut sebagai ksatria, namaku diartikan sebagai “sinar terang”. Aku adalah keturunan kuru yang terbaik, hingga julukan Kurusetha diberikan padaku. Akulah manusia pilihan yang mendapat Bhagawadgita atau nyanyian dewata, wejangan suci dari Kresna. Aku Arjuna, anak ketiga Kunti dari Indra, pemimpin para dewa”. Tiba-tiba saja dia membayangkan dirinya sebagai Arjuna. Bukan Arjuna dengan semua kesempurnaan yang pernah manusia-manusia itu dengar, Arjuna ringkih yang hanya bisa terbawa dalam kepuasan malam yang sunyi, hingga bintang melirik heran karena senyumnya yang memuakkan. Dibawah pohon mangga ia menyandarkan diri, merenungi semua yang pernah ia lihat tentang sosok Sumarti yang membuat hatinya berguncang. Dia kini larut dalam imaginasi lagi. “aku adalah Srikandi, wanita ksatria yang akan menaklukan hati setiap lelaki. Aku bukan wanita yang menangis ketika terluka, aku melawan keterlukaan itu, aku adalah wanita yang kuat” bayangan Surti tergambar sebagai sosok ...