Postingan

Menampilkan postingan dengan label tentang kawan

Satu Jam Saja

Beberapa waktu lalu, disela-sela memanasnya berita tentang hasil hitung cepat pilpres pada 9 Juli, ada kabar cuaca bahwa suhu Jakarta menembus angka 25 derajat celcius, sedikit dingin untuk Jakarta yang biasa panas. Saya tahu, berita ini tak memiliki pengaruh apapun terhadap booming-nya berita-berita tentang Quick Count. Malam ini, saya tak tahu Jember berapa derajat suhunya, tak ada media yang mau memberitakannya. Ya, memang tak penting. Yang jelas, saya menulis ini pada malam hari dengan mengenakan jaket, Jember sedang dingin. Kawan saya, di sebelah saya duduk mengajak “panas-panasan!” Mengajak saya menulis cepat, terserah apapun yang ditulis. Selanjutnya tulisan itu akan langsung diposting ke website pribadi masing-masing. Jam sepuluh malam nanti, adalah batas akhir tulisan itu. Tak ada hadiah atau apapun dalam kompetisi ini, Cuma iseng! *** Beberapa hari ini, saya intens mengamati berita-berita media online dan televisi. Semua pada sibuk memberitakan sesaknya atmosfir...

Menulis

Menulis bagi seseorang memiliki banyak arti. Ada yang memahaminya sebagai media untuk mengabadikan sebuah momen, ada yang menganggap menulis sebagai terapi, menulis adalah cara menuangkan perasaan yang paling mudah, dan banyak hal lainnya. Saya termasuk bagian orang-orang yang juga memberikan arti sendiri tentang menulis, hingga hal ini membuat saya berfikir, mungkin aka panjang kalau saya jelaskan dalam sebuah tulisan.  Agak sulit untuk menggambarkan bagaimana keadaan dan perasaan saya saat tidak menuangkan sebaris tulisan saja. Entah saya tergolong orang seperti apa, hampir dalam setiap kondisi akan menulis atau ditengah-tengah proses menulis, saya selalu berfikir kalau tulisan saya akan buruk dan hal ini membuat saya enggan untuk menyampaikannya tulisan saya itu kepada pembaca. Saat ditengah proses menulis, saya juga pernah mengalami hal menjengkelkan, tiba-tiba saja saat tulisan saya hampir selesai, terbersit sebuah fikiran, “tulisan ini kurang bagus”. Akhirnya yang...

Wanita-wanita

Setiap perempuan, siapapun dia, dapat membuat seorang lelaki, siapapun dia, menjadi seorang pria sejati. -Putu Wijaya- Dia yang darahnya mengalir di tubuhku, yang peluhnya menetes dalam semangatku dan kasih sayangnya yang memaksaku ikhlas tumbuh bersama waktuku. Raut wajahnya kini tak seperti dulu, saat aku masih belum bisa membuang ingusku sendiri. Dia tak terlalu renta, namun masih berwibawa dan lembut tuturnya. Berjalannya kini pelan, tak seperti dulu saat ia masih bisa mengejarku yang tengah asik bermain, dan hampir saja kendaraan bermotor menabrakku dari belakang saat aku berlarian di jalan. Bicaranya kini setengah berbisik, tak seperti dulu yang tawa kerasnya bisa membuatku tertawa juga. Yang tak berubah dari wanita 60-an tahun itu, masakannya masih bisa menggoyang lidah. Saat aku jauh darinya, selain binar wajah dan tegak tubuhnya, adalah masakan sederhananya yang kurindu. Urap-urap sepesial buatannya selalu menungguku di meja dapur, dan dia menyiapkan it...